by | Mar 3, 2019 | Calcucino | 0 comments

Orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, tentunya sangat kaya dengan pengalaman membesarkan si buah hati yang berbeda dengan orang tua lainnya. Mulai dari repotnya kunjungan ke klinik terapi, ke dokter, mencari sekolah-sekolah khusus yang menerima anak mereka dengan berbagai persyaratan, mencarikan guru pendamping, mempelajari cara memasak menu glutein free, mengajarkan keterampilan, dan bagi yang masih sempat, hinggap dari satu seminar parenting ke seminar parenting lainnya untuk memperkaya wawasan mengenai tumbuh kenang anak istimewa mereka.

Tanpa disadari, Tuhan menganugerahi mereka permata yang perlu diasah sehingga menjadi berlian. Dalam proses mengasah sang anak, orang tua dianugerahi banyak pembelajaran yang membentuk diri mereka sendiri untuk menjadi lebih sabar dan kuat.

Itulah yang kami rasakan sebagai orang tua dari Harits yang lahir tahun 1999. Dua  tahun setelah kembali ke Indonesia dari menemani orang tuanya belajar di USA, Harits yang berperilaku bubbling, gemar loncat-loncat di trampolin dan hobi mengepakkan tangan, dideteksi autis. Proses mendampingi anak istimewa merupakan jalan panjang tak berujung. Tapi di setiap langkah selalu ada harapan, tentu saja.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK)  di Indonesia mencapai angka 1,6 juta anak. Salah satu upaya yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk memberikan akses pendidikan kepada mereka adalah dengan membangun unit sekolah baru, yaitu Sekolah Luar Biasa (SLB), dan mendorong tumbuhnya Sekolah Inklusi di daerah-daerah.  Namun, sekolah yang khusus mengajar dan mendidik ABK dengan menggunakan istilah “homeschooling” dimulai tahun 2009 oleh HSSN Piramida. Homeschooling Special Needs Piramida.

Sekolah ini berawal dari seorang siswa, hanya Harits. Saat pendirian sekolah, pendampingan belajar Harits dilaksanakan oleh Bapak Eka Kurnia Muttaqien. Guru pendamping pertama Harits sendiri adalah Ibu Rika Mulyati sejak tahun 2002. Pak Eka hadir dan menjadi pembuka jalan bagi cita-cita mereka yang ingin anak istimewa mereka mampu belajar dengan kenyamanan, dan kemampuan. Tanpa harus dipaksa mengikuti satuan kurikulum reguler yang belum tentu mudah dipahami.

Apa itu ABK?

Menjelajahi Wikipedia, definisi ABK adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille (tulisan timbul) dan tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat (bahasa tubuh).

WhatsApp chat